KOPERZONE – Kiprah perempuan di kepolisian sepatutnya menjadi kebanggan tersendiri. Pasalnya, bidang ini masih berbau maskulin. Bagi seorang perempuan, tak mudah berkarier menjadi seorang polisi wanita (polwan).

Mereka yang berhasil ini telah melalui tempaan, tak hanya dari pendidikan yang menantang, namun juga berhasil keluar dari kungkungan persepsi kaku sebagian masyarakat.

Pada tanggal 1 September 2021 kemarin, Indonesia memperingati Hari Polisi Wanita yang ke-73. Perjalanan ini pun tak mudah dan penuh liku-liku.

Sejarah ini berawal pada tahun 1948. Ketika itu, Indonesia masih berusia balita. Kondisi pasca kemerdekaan pun masih tak menentu akibat perang yang terjadi di berbagai daerah untuk mempertahankan kemerdekaan.

Waktu itu, polisi kesulitan ketika memeriksa korban, tersangka, ataupun saksi perempuan. Polisi harus meminta bantuan dari istri atau pegawai sipil perempuan lain guna memeriksa fisik korban.

Karena kondisi tersebut sering terjadi, selanjutnya organisasi wanita dan organisasi wanita Islam di Bukittinggi pun memberi saran kepada pemerintah agar perempuan bisa dilibatkan dalam pendidikan kepolisian.

Usulan tersebut disetujui. Cabang Djawatan Kepolisian wilayah Sumatera yang ada di Bukittinggi langsung memberi pendidikan kepada enam perempuan terpilih.

Mereka adalah Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmaniar dan Rosnalia Taher.

Selanjutnya 1 2 3 4