Jakarta, Akuratnews. com — Usai ditangkap pada Sabtu (27/2) pagi buta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah (NA) sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulsel.

Penetapan NA sebagai tersangka merupakan tindak lanjut Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang diterapkan KPK. Nurdin sendiri ditetapkan sebagai tersangka bersama dua orang lainnya.

“KPK menetapkan tiga orang tersangka. Pertama, sebagai penerima yaitu saudara NA dan ER. Kedua, sebagai pemberi saudara AS, ” kata Ketua KPK, Firli Bahuri, Minggu (28/2) dini hari.

Firli menjelaskan, Edy Rahmat (ER) merupakan Sekretaris Dinas Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara tersebut, Agung Sucipto (AS) adalah seorang kontraktor.

Firli mengatakan, kronologi tangkap tangan diawali dari informasi masyarakat akan adanya dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh Penyelenggara Negara.

KPK menerima laporan dari masyarakat bahwa AS akan memberikan sejumlah duit kepada NA melalui perantara ER sebagai representasi lalu sekaligus orang kepercayaan EM.

Sekitar pukul 20. 24 WIB, Agung menuju ke salah satu rumah makan di Makassar. Di sana rupanya diketahui sudah ada Edy yg menunggunya.

Selanjutnya, kata Firli, keduanya pergi menuju ke Jalan Hasanuddin, Makassar.

“Dalam perjalan tersebut, AS menyerahkan proposal terkait beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Tahun Anggaran 2021 kepada EMERGENY ROOM, ” beber Firli.

Sekitar pukul 21. 00 WIB, Irfan yg merupakan supir Edy, mengambil koper yang diduga berisi uang dari dalam mobil milik Agung untuk dipindahkan ke dalam bagasi milik Edy di Jalan Hasanuddin.

“Selanjutnya, sekitar pukul 23. 00 Wita, AS diamankan saat perjalanan menuju ke Bulukumba. Sedangkan sekitar pukul 00. 00 Wita, ER beserta uang dalam koper sejumlah sekitar Rp2 miliar turut diamankan di rumah dinasnya, ” ucapnya.

Kendati dalam OTT tersebut KPK menangkap enam orang, namun hanya tiga orang yg ditetapkan sebagai tersangka ialah Nurdin Abdullah dan Edy sebagai penerima, serta Agung sebagai pihak pemberi.

NA bersama dengan ER disangkakan melanggar Pasal 12 huruf an atau Pasal 12 huruf n atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 99 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor twenty Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Sementara SINCE ditetapkan sebagai tersangka pemberi.

“AS disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf an / Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor thirty-one Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun i b?rjan p? tv?tusentalet tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal fifty five ayat 1 ke 1 KUHP, ” terang Firli.

Dalam kesempatan itu, KPK juga memperlihatkan barang bukti (barbuk) koper berisi uang Rp2 miliar hasil OTT.