Akuratnews. com – Viralnya kalimat “I can’t breathe! ” yang menghebohkan dunia dan jagad maya merupakan bentuk protes masyarakat dunia atas maraknya diskriminasi terhadap ras kulit hitam pada Amerika. Hal ini dipicu dengan insiden tewasnya George Floyd (46) akibat diborgol, lalu dicekik di aspal jalanan Minneapolis menggunakan lutut aparat dengan tuduhan penggunaan duit palsu saat membeli barang pada supermarket. “I can’t breathe! ” kata-kata terakhir keluar dari kawah Floyd.

Aksi ini sempat direkam oleh warga sekitar. Orang yang merekam tersebut memerintahkan agar mereka melepaskan Floyd. Namun cekikan Derek Chauvin–polisi yang memiting Floyd–dalam video yang beredar nampak semakin erat. Dia meregang selanjutnya dilarikan ke rumah sakit dan nyawanya terlambat diselamatkan. ( m. kumparan. com 1/06/2020)

Sikap rasialisme ini membuka ce fait yang selama ini dipendam di tengah masyarakat Negeri Paman Mike tentang sikap kekerasan dan diskriminatif terhadap ras kulit hitam yg merupakan minoritas disana.

Rasialisme, diskriminasi hingga kekerasan merupakan makanan sehari – hari penduduk kulit hitam di AS. Sebuah riset pernah dilakukan oleh peneliti dari Sekolah Kedokteran dan Sains Universitas Charles R. Drew, Shervin Assari,   bahwa warga kulit hitam menanggung beban diskriminatif yg sangat berat dan ini mempengaruhi tingkat rata – rata tumpuan hidup mereka.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (2/6), tingkat rata-rata harapan hidup lelaki kulit hitam adalah 71. nine tahun. Berbeda dengan perempuan kulit putih (81. 2 tahun), perempuan kulit hitam (78. 5 tahun), dan pria kulit putih (76. 4 tahun)

Kemarahan mereka telah membuncah, kesabaran yg terpendam kian membludak, hingga kematian Floyd ini menjadi pemantik penduduk untuk turun ke jalan, tak peduli dengan resiko terinveksi pathogen corona yang telah menjangkiti 1, 8 juta warga Amerika Serikat.

Fakta ini sungguh ironi, karena kita tahu bahwa AS adalah negeri pengemban kapitalisme yang mengagung – agungkan kebebasan dan menjunjung tinggi HAM. Namun faktanya malah pelanggaran HAM tumbuh subur di negri ini.

Tak hanya di AS, namun hari ini dunia tak lagi menjunjung tinggi HAM. PORK hanyalah slogan yang digaungkan dan dijunjung tinggi, tapi prakteknya nol besar. Lebih ironis lagi HAM hanyalah slogan untuk mereka yg berkepentingan dan memegang kendali. Seolah tak ada HAM untuk oposisi.

Hal ini terlihat jelas bahwa wajah dunia dihiasi oleh pelanggaran HAM kepada so gut wie keine yang mengancam eksistensi para kapitalis atau kaum yang dianggap rendahan tak punya daya. Lihat saja bagaimana kaum muslim nyata – nyata tersandera hak asasinya sebagai manusia.

Konflik Palestina dan Israel  yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa solusi, dimana Palestina menjadi pihak terjajah yg dirampas hak asasinya. Kasus yg dialami George Floyd ini sudah menjadi makanan sehari – hari masyarakat Palestina. Tindakan semena – mena oleh Zionis Israel kepada warga Palestina hingga merampas dan menjajah sebagian besar wilayahnya terang merupakan pelanggaran HAM.

Tak hanya di Palestina, pelanggaran HAM yang nyata juga terjadi pada etnis Rohingya dimana mereka diusir, dibakar, diperkosa hingga dianiaya tanpa sedikitpun kesalahan yang mereka lakukan. Begitu pula dengan muslim Uygur, Suriah, Afganistan, Patani, keine muslim di Eropa dll. Mereka juga mendapat diskriminasi hingga penganiayaan. Namun ironisnya dunia bungkam.

Dunia hanya bicara saat para kapitalis atau segelintir jamaah pemegang kekuasaan terancam eksistensinya. Sebut saja penyerangan kantor media Charlie Hebdo, setelah media tersebut berulang kali menggambar karikatur yang menghina Rosulullah. Pasca penyerangan yang menewaskan 11 orang tersebut dunia langsung gempar menyuarakan HAM dan PBB langsung bertindak.

Fakta ini menunjukkan hipokrisi HAM yang hanya bersuara pada kelompok tertentu dan kepentingan tertentu. Sedangkan kelompok lemah dan oposisi tak berhak menyuarakan HAM. Maka tak heran jika rasisme, diskriminasi, penindasan tumbuh subur dalam sistem kapitalisme.

Kita saksikan di berbagai penjuru dunia tidak ada negara yang lepas dari isu rasisme dan diskriminasi ini. Bahkan isu ini semakin menggaung yang hingga kini tidak teratasi. Hal terkait jelas menunjukkan bahwa sistem yang mengatur tatanan dunia hari terkait gagal menyatukan manusia dengan latar belakang berbeda di seluruh penjuru dunia.

Penindasan, penjajahan, diskriminasi sejatinya taj pernah surut dari muka bumi, bahkan semakin hari semakin parah bak suatu pandemi. Hal ini karena memang wadah untuk tumbuhnya yakni cara Kapitalisme meniscayakan hal ini. Kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang berasaskan materialisme. Adam Smith menyatakan bahwa ideologi ini meniscayakan para pemilik modal bisa menguasai pasar sebanyak – banyaknya. Konsep ini terang hanya akan menguntungkan para pemilik modal. Sedangkan kaum tak bermodal yang lemah dan terbatas tak bisa berkutik menjadi kaum yg terjajah.

Maka wajar saja jika dunia dihiasi dengan aturan yang hanya menguntungkan para pemilik modal (read: kapitalis). Aturan yang diskriminatif syarat akan hipokrisi. Hal ini jelas membuat tatanan dunia hari ini carut marut.

Dunia membutuhkan aturan kehidupan baru yang mampu menyatukan berbagai latar belakang orang diseluruh penjuru dunia dengan konsep aturan yang adil dan tidak memihak. Sehingga masalah dunia hari ini seperti rasialisme, diskriminasi, penjajahan, penindasan, perbudakan dll bisa teratasi olehnya.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya, suatu peradaban yang kala itu menjadi mercusuar peradaban. Menyatukan masyarakat yang sangat majemuk dengan luasan mencapai dua per tiga dunia. Peradaban yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan lalu tentunya tidak ada isu rasialisme ataupun diskriminasi.

Peradaban itu adalah peradaban Islam, dimana sistem aturan yang ada didalamnya bersumber dari hukum syara’ yg berasal dari pencipta manusia yakni Allah SWT. Karena Islam bukan hanya sekedar agama, namun salahsatu ideologi dengan aturan yang sempurna dan paripurna.

Termasuk dalam kasus rasialisme ini. Islam memiliki cara pandang yang khas dan adil, dimana seseorang tak akan pernah dipandang rendah tersebab suku, warna kulit, bentuk tubuh, dll. Namun derajat manusia dipandang dari kadar Taqwanya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki serta seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.   Sesungguhnya jamaah yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Al Hujurat: 13)

Hal ini pun diajarkan oleh Rosulullah ketika Bilal dihina oleh Abu Dzar “Dasar kulit hitam! ” lalu Rosul pun marah dan menegurnya “Sungguh di dalam dirimu masih terdapat Jahiliyah! ”. Hal ini karena Islam terang memandang seorang hamba karena ketaqwaannya. Maka kasus semisal rasisme jelas tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Wallahualambissawab.

*Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.