AKURATNEWS – Merasa difitnah dan nama baiknya tercemar, Keluarga Hj. Endang Yuniati, istri dari pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang KH Muchtar Mu’thi melapor ke Polda Jawa Timur, Jumat (4/6).

Nyai Hj Endang Yuniati, menjadi korban pencemaran nama baik melalui besar video yang disebarkan oleh pihak – pihak dengan tidak bertanggung jawab, dalam grup-grup WhatsApp.

Dalam video pertama yang beredar, berdurasi 48 denyut yang di-share pada enam Oktober 2020 silam, rujukan di video tersebut mengecap, bahwa Nyai Endang Yuniati adalah anak dari tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) bernama Asir.

Pada video kedua dengan disebar 18 Mei 2021, dengan durasi 4 menit 14 detik serta konten yang hampir sama. Pelaku membuat narasi bahwa Endang Yuniati adalah seorang bujang dari keluarga PKI & Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Video yang juga tersebar di grup-grup WA santri ini terlihat dramatik. Pelaku menampilkan menjepret Hj Endang Yuniati era masih muda dan disebut sebagai keluarga PKI dengan menyusup ke Pondok Siddiqiyyah.

Menggantikan keluarganya, Qoim Liddinillah, bani ketiga dari KH Muchtar Mu’thi dan Nyai Endang Yuniati yang ditemui di Polda Jatim menyampaikan,   bahwa dirinya membuat pertandingan masyarakat (Dumas) atas pencemaran nama baik tersebut.

“Kami di sini ingin meluruskan, bahwa Ibu saya bukan PKI atau Gerwani. Ibu bukan dari keluarga PKI. Perlu diketahui, ibu saya pensiunan PNS, sebagai guru. Ayah lantaran ibu saya (Asir) dengan dituduh sebagai PKI, pula PNS, ” tegas adam yang akrab disapa Gus Qoim ini.

Diakui Gus Qoim, bahwa dulu memang ada cerita, saat peristiwa tahun 1965 kakeknya dengan bernama Asir menjadi objek salah tangkap.

Ketika itu, lanjut Gus Qoim, Asir adalah seorang guru di sebuah madrasah di daerah Tembelang. & kebetulan di Tembelang tersebut, ada seorang warga desa  yang diduga masuk jadwal PKI memiliki nama yang hampir mirip dengan Asir.

Ketika itu, sekelompok massa pun membongkar-bongkar orang tersebut di Tembelang. Namun justru Asir yang ditangkap karena memiliki kesesuaian nama. “Yang dicari orang lain, tapi keliru Pak Asir, ” ungkapnya.

“Saat peristiwa tersebut, ibu saya masih berumur sekitar 7 tahun. Jika memang beliau (Endang Yuniati) keluarganya terlibat PKI ataupun Gerwani, tidak mungkin mau menjadi PNS, ” tambahnya.

Dengan bahana, Gus Qoim menyatakan bahwa video yang disebar melalui grup-grup WA tersebut merupakan fitnah dan mencemarkan nama baik keluarganya.

“Penyebaran video di group WA di kalangan santri itu merupakan fitnah. Metode hukum diambil selain sebagai adanya dugaan tindak kejahatan, juga ada sebagian pelurusan atas nama baik dari keluarga Nyai Endang sendiri, ” tegasnya.

Pengaduan atas dugaan tindakan pidana fitnah melalui media sosial di Subdit Cyber, Kriminal khusus (Krimsus) Polda Jatim tersebut, menurut Gus Qoim sebagai langkah awal buat membuat laporan secara formal.

“Atas fitnah melalui video yang disebar di WA Group itu, dampak yang paling terasa dikalangan santri sudah tidak menganggap keluarga Bu Endang sebagai keluarga atau bujang dari Kyai Muchtar, ” ujarnya.

Dampak beredarnya dua video tersebut, Gus Qoim menggambarkan, pada Selasa 11 Mei 2021 sekitar pukul 17. 00 WIB, rumah Hj Endang Yuniati yang berada dalam lingkungan Ponpes Shiddiqiyyah digeruduk ratusan santri serta orang tak dikenal. Apalagi pintu dan jendela panti ditutup paksa dengan papan nama kayu.

“Bahkan, saat ini kami telah mengalami teror bahkan ancaman pembunuhan. Kami tidak sedia menyebut siapa aktor intelektualnya dibalik ini, karena ini ranahnya Polisi untuk melakukan penyelidikan atas bukti dengan kami serahkan, ” tutupnya.