AKURATNEWS – Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto minta BATAN & BAPETEN memantau dan meneliti rencana Pemerintah Jepang dengan ingin membuang limbah reda radioaktif nuklir PLTN Fukushima ke laut. Kedua lembaga tersebut diharapkan dapat memberi masukan kepada Pemerintah untuk mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu.

Sebelumnya diketahui bahwa Pemerintah Jepang sedang menyiapkan proyek pengucilan 1, 25 juta ton limbah cair radioaktif dibanding air pendingin bekas PLTN Fukushima ke laut.

Meski menurut masukan Pemerintah Jepang, bahwa limbah tersebut sebelum dibuang bakal diolah untuk mencapai patokan mutu limbah cair dan mendapat dukungan dari pranata tenaga nuklir internasional (IAEA), namun pemerintah diminta tetap harus hati-hati.

“Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia harus waspada berasaskan rencana pembuangan limbah nuklir Jepang ini karena resiko kemungkinan mengalirnya limbah radioaktif tersebut masuk ke dalam wilayah perairan Indonesia beriringan dengan dinamika arus laut tetap terbuka.

Bila ini terjadi maka pengaruh radioaktif lingkungan meniti jalur kritis rantai sasaran dapat masuk ke di dalam tubuh dan memberikan landasan radiasi internal kepada kelompok. Hal ini tentu harus kita hindari, ” ujar Mulyanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat 15 April 2021.

Menurut Mulyanto, Indonesia tidak bisa melalaikan persoalan ini. Sebab kedudukan geografis Indonesia tidaklah sungguh-sungguh jauh dengan Jepang jadi sangat mungkin limbah penyingkiran itu masuk ke pada wilayah perairan Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi bagian Utara, Kalimantan bagian Memajukan dan Maluku bagian mengadukan.

“Kita terang Jepang termasuk negara yang cukup hati-hati dalam menolok program nuklirnya. Karena itu sikap kita harus obyektif proporsional sesuai dengan tingkat kepentingan nasional kita, ” imbuh Mulyanto yang adalah doktor nuklir lulusan Tokyo Technology of Institute, Jepang, ini.

Sebagai informasi Pemerintah Jepang sudah menyusun kebijakan dasar untuk membuang air olahan limbah nuklir Fukushima ke laut, dua tahun ke pendahuluan, setelah memastikan tingkat ketenangan limbah cair tersebut. Operator pembangkit listrik Tokyo Electric Power Company Holdings Inc (Tepco) dilaporkan membutuhkan zaman sekitar dua tahun buat benar-benar dapat membuang minuman radioaktif itu ke bahar.

Rencana ini mendapat dukungan dari IAEA, yang mengatakan pelepasan itu mirip proses pembuangan air limbah dari PLTN di tempat lain di dunia. Air yang mengandung tritium sebenarnya secara rutin dilepaskan dari pembangkit nuklir di seluruh dunia, karena tak mengeluarkan energi yang cukup untuk menembus kulit pribadi dan dianggap relatif tak berbahaya.

PLTN Fukushima sendiri adalah reaktor nuklir yang rusak akibat gempa dan tsunami dalam tahun 2011. Limbah lebur sebanyak lebih dari satu juta ton tersebut berawal dari air pendingin reaktor, air hujan dan negeri yang merembes setiap keadaan, dan hanya menyisakan tritium, isotop radioaktif hidrogen dengan sulit dipisahkan dari tirta.

Rencana tersebut ditolak oleh para nelayan Jepang sendiri, juga oleh negara tetangga seperti China dan Korea Selatan. ***