Jakarta, Akuratnews. com – Teristimewa, kinerja Menteri Pendidikan dan Kultur (Mendikbud), Nadiem Makarim mendapat sorotan dan kritik tajam dari sebesar praktisi dan pengamat pendidikan.

Nadiem dianggap belum sanggup mewujudkan secara nyata program & visi Nawacita sebagai Menteri Pendidikan sebagaimana harapan tinggi yang telah disematkan kepadanya saat ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) kurang lebih sejak sembilan bulan yang semrawut.

Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyudi Kumorotomo menyatakan Nadiem sebagai Gajah Pendidikan tidak betul-betul menguasai denah persoalan pendidikan di Indonesia.

“Nadiem agaknya lebih betul menjadi salah satu dirjen dalam Kementerian Pendidikan yang dapat membuat inovasi di bidang teknologi pendidikan, ” ujar Wahyudi Kumorotomo di dalam diskusi zoom dan live Youtube Pustakapedia, Selasa (7/7) bertema, ‘Arah Pendidikan Kita: Mas Nadiem Bersetuju ke Mana? ‘

Selain Wahyudi Kumorotomo, diskusi online itu juga diikuti beberapa pembicara. Pengantar diskusi CEO Pustakapedia, Akhmad Muzambik, Narsum Pakar Pendidikan Doni Koesoema A dan Ketua Ikatan Guru Indonesia – IGI Muhammad Ramli Rahim, pemantik David Krisna Alka Editor in Chief Pustakapedia, dan dimoderatori Andriansyah Syihabuddin

Wahyudi beralasan terdapat situasi yang berbeda di Kemendikbud dengan kini menangani semua jenjang pelajaran di Indonesia. Selain itu, pendapat Nadiem yang menghendaki semua kesibukan Proses Belajar Mengajar (PBM) dikerjakan secara daring tidak sesuai secara kenyataan di lapangan.

“Banyak daerah yang belum menyimpan infrastruktur pendidikan yang memadai. Tanpa lagi internet, bahkan banyak kawasan di Indonesia yang belum teraliri listrik. Hal ini tentu menggunakan segregasi dan segmentasi kebijakan sebati dengan kenyataan di setiap kawasan. Artinya tidak semua jenjang & daerah dapat dilakukan PBM secara daring karena banyak materi penelaahan yang memerlukan mentoring pengajar, ” kata Wahyudi.

Wahyudi juga menyoroti program Merdeka Belajar dengan banyak catatan. Program ini menurutnya, pada tingkat operasional tidak benar-benar dapat diimplementasikan untuk melahirkan pembelajaran secara merdeka sesuai dengan visi dan konsep yang dibuat. “Program Merdeka Belajar sejauh ini tampak baru sebatas gimmick, ” tegasnya.

Begitu serupa dengan perkembangan Sumber Daya Bani adam (SDM) yang tidak terlalu menetapkan. Sampai dengan 2019, SDM Indonesia masih didominasi lulusan SD (32%) dan SMP (22, 8%) atau 54% lebih. Berikutnya, lulusan SMA (20, 15%), SMK (17, 31%), D-1, D-2, D-3 (1, 8%), dan S-1 ke atas (4, 11%). ”Terkait dengan hal itu tampaknya belum ada terobosan lantaran Menteri Nadiem, ” ucapnya.

Wahyudi juga meragukan Strategi Kemendikbud 2020-2024 yang menjadi arah program Merdeka Belajar, bahwa angka partisipasi peserta didik di madrasah tinggi dipatok pada angka 70%.

“Bagaimana mungkin di dalam 2019 berada di angka kontribusi 4, 11% lalu melompat ke angka 70% hanya dalam empat tahun? ” kata Wahyudi.