AKURATNEWS kacau Pekerjaan jasa konstruksi senilai di atas Rp1 milyar berasal dari APBD Sidoarjo kerapkali mendapat sorotan sejak masyarakat setempat, karena hasilnya dinilai tidak sesuai tumpuan mereka. Apa penyebabnya?

Sebagaimana dikemukakan Kepala DPD LSM Gerah Jatim, Jim Darwin pada Akuratnews. com, Senin (27/9/2021), sesungguhnya banyak hal yang mampu mempengaruhi kualitas hasil pekerjaan jasa konstruksi itu. Salah satunya, proses lelang.

“Sebagai contoh, bisa dilihat proses lelang order jasa konstruksi Dinas PUBMSDA Sidoarjo, yakni proyek peningkatan jalan Wonoplintahan – Jedongcangkring, berlokasi di Prambon, Sidoarjo yang dimenangkan PT Dwi Jaya Mulya. Padahal, kadar HPS pekerjaan ini Rp21 milyar, tapi kontraktor penawar Rp14 milyar ditetapkan oleh karena itu pemenangnya. Berarti, anjlok 32% atau tinggal 68% dibanding nilai HPS, ” ungkapnya.

Rendahnya nilai penawaran yang terkesan kurang wajar itu, sambung Jim, tentu sangat berdampak terhadap kualitas hasil pekerjaan.

“Dalam evaluasi & koreksi harga, Pokmil UKPBJ harus mengetahui sumber kehormatan satuan material, upah serta alat dari survei harga pasar. Serta, Pokmil pula harus menghitung secara teknis gambar perencanaan dan pengkhususan sesuai dokumen pemilihan. Tetapi disayangkan, pada temuan peningkatan Jalan Wonoplintahan – Jedongcangkring tampak tidak sepadan antara kebutuhan dalam gambar perencanaan dengan pelaksanaannya, sehingga berlaku pengurangan mutu hasil pekerjaan. Bahkan, pemborosan uang negara, karena terdapat pada item pekerjaan yang selayaknya tidak dimasukkan dalam anggaran belanja, ” paparnya.

Kemudian, Jim menandaskan, penghitungan HPS itu dibuat bersandarkan keahlian dan menggunakan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Lalu, bagaimana soal penawaran kontraktor yang turun jadi 68% dari jumlah HPS bisa ditetapkan sebagai pemenang lelang? Apakah situasi ini dianggap suatu jumlah kewajaran harga penawaran? Bila kemudian hari, terjadi hasil pekerjaan kontraktor gagal bangunan, siapa pihak yang mau dan ikut bertanggung tanggungan?, ” tanya pria yang dikenal seorang pemerhati pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah ini. ***