Jakarta, Akuratnews. com awut-awutan Anggaran ratusan triliun rupiah yang digunakan untuk pengerjaan pandemi virus Corona (Covid-19) semakin santer dipertanyakan efektivitas penggunaannya.

Anggaran yang jumlahnya tinggi ini terlihat ironis karena tidak bisa membayar masyarakat yang mau melakukan rapid test Corona. Rakyat masih dipungut biaya untuk ulangan, padahal pandemi ini sudah dinyatakan sebagai darurat nasional.

Pertanyaan ini dilayangkan Ketua Premi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Ia meluluskan contoh, para santri yang bakal kembali ke pesantren diwajibkan rapid test dengan biaya sendiri. Sejenis pula bagi yang hendak berangkat ke luar daerah.

Biaya tes yang mencapai ratusan ribu rupiah ini akhirnya menjadi persoalan santri dan orangtuanya.

“Kemana ya uang Rp405 T yg sekarang naik Rp667, 2 T. Ini anak-anak santri mau balik ke pesantren kudu rapid tes masih bayar. Bener nih, serius nanya kemana uang kita sebanyak itu ya? ” ujar Cholil dalam akun Facebook-nya.

Hal ini selalu dialami anaknya saat hendak berangkat ke Malang, Jawa Timur minggu lalu saat hendak menghadiri keluron sekolah dan harus mengeluarkan Rp400 ribu untuk rapid test.

“Kalau orang mau ulangan saja disuruh bayar, sementara anggaran kita banyak, apakah ini tidak lebih urgen dibandingkan lainnya? Kalau orang tidak tes, dikejar-kejar (untuk) disuruh tes. Sementara orang bersetuju tes (malah) disuruh bayar. Itu kan paradoks sebenarnya, ” tinggi Cholil yang juga Sekretaris Satgas Covid-19 MUI ini.

Karena memang sudah ada perkiraan yang cukup besar inilah, dirinya menyarankan pemerintah agar memudahkan itu yang ingin melakukan rapid test. Sehingga bisa dieliminir penularan pagebluk Covid-19 ini.

Terlebih lagi, Kementerian Keuangan juga telah menyetujui usulan dari Kementerian Keyakinan senilai Rp2, 3 triliun buat Bantunan Operasional Pesantren (BOP) dan mendukung pembelajaran jarak jauh semasa masa pandemi virus Corona.

“Orang ke pesantren disuruh rapid test. Bagus kalau ada kesadaran, kalau nggak? Dia langsung masuk kan lebih berbahaya. Sepantasnya digratiskan bagi seluruh santri sebab semua zona, ” pungkasnya.