Ijin galian C batu kapur di lingko Lolok dan jadwal pembangunan pabrik semen di negeri Luwuk kurang lebih mencapai 89% tingkat persetujuan masyarakat.

Manggarai Timur, Akuratnews. com –Pro dan kontra terkait ijin galian C batu kapur di Lingko Lolok sebab Pemprov NTT dan rencana mengahdirkan pabrik semen di kampung Luwuk Desa Satar Punda, Kecamatan Lomba Leda oleh Pemda Manggarai Timur, terus bergulir.

Diabalik tingginya persentase persetujuan masyarakat Dukuh Luwuk dan Lengko Lolok, kalender pemerintah tersebut justru mendapat pancaran dari JPIC dan diaspora Manggarai Timur peduli, misalnya. Kedua lembaga ini bahkan ngotot dan secara nyata menunjukkan sikap penolakannya.

Ditengah situasi COVID-19 dan penetapan PSBB oleh pemerintah, tingkah laku penolakan JPIC itu secara jelas ditunjukkan dengan mengadakan forum perbincangan bersama warga Luwuk kontra bengkel, difasilitasi oleh JPIC pada keadaan Minggu tanggal 03 Mei 2020, digelar di pendopo Paroki Reo, Kecamatan Reo Kabupaten Manggarai.

” Hari ini, awak di kampung Luwuk yang menumpukan kehadiran pabrik semen sedang mendatangkan pertemuan di Paroki Reok beserta JPIC, ” ungkap salah kepala tokoh masyarakat Desa Satar Punda, Bernabas Raba kepada akuratnews. com, ketika ditemui pada hari Minggu, (03/05/2020).

Sedangkan kaum diaspora Manggarai Timur Peduli, menyatakan sikap penolakan melalui petisi kepada Pemkab Manggarai Timur dan Pemprov NTT serta kementerian terkait. Di dalam hari Minggu tanggal 3 Mei 2020, sebanyak 322 orang dari berbagai profesi, meneken petisi itu.

” Kami menentang pembangunan pabrik semen di Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur, termasuk kerelaan penambangan bahan baku semen di Lingko Lolok dan sekitarnya, ” kata Flory Santosa Nggagur, dikutip dari laman Media Indoensia, Minggu (3/05/2020)

Kendati begitu, sejak awal bergulirnya wacana terpaut ijin galian C batu kapur di Lingko Lolok dan rencana pembangunan pabrik semen di daerah Luwuk, mayoritas masyarakat setempat telah menyatakan sikap untuk menerima serta mendukung program pemerintah tersebut.

Penelusuran akuratnews. com, menderita masyarakat di kampung Luwuk pada hari Minggu, tanggal 3 Mei 2020, rupanya sikap yang diambil oleh mayoritas masyarakat itu lulus beralasan.

Ketua RT Kampung Luwuk, Efridus suhardi menceritakan, ratusan tahun lamanya potensi tempat di sekitar kampung Luwuk dan Lingko Lolok tidak dimanfaatkan secara maksimal, baik sebagai lahan persawahan maupun perkebunan.

” Mata pencaharian masyarakat kampung Luwuk adalah bertani namun hasil pertanian kami tidak mampu memberikan ketenteraman bagi kami disini, ” membuka Efridus suhardi

Iklim lahan berbatu dengan curah hujan yang rendah berdampak pada buruknya kualitas hasil panen, ” Sesungguhnya komoditas di Luwuk ini adalah jambu mente, tapi itu flora musiman yang dipanen setahun sekadar, ” paparnya.

” Hasil panen tergantung pada kesuburan tanah dan tingginya curah hujan. Kenyataannya setiap tahun kami selalu gagal, ” jelas Efridus suhardi

Kareb itu Efridus suhardi bahkan sangat yakin, kehadiran pabrik semen itu akan menciptakan lapangan kerja baru dan peluang usaha bagi masyarakat setempat.

” Penyerapan tenaga kegiatan lokal juga sangat banyak karena bengkel pasti membutuhkan para pekerja dengan banyak sehingga tidak perlu lagi merantau ke luar daerah, kaya Papua atau Kalimantan, ” ungkapnya.

Selain mendapatkan kesempatan kerja, Dia juga mengungkapkan bahwa masyarakat akan sejahtera dengan adanya melalui CSR yang diberikan oleh pihak perusahaan nantinya.

” Minimal kami bisa hidup lebih baik dan layak daripada kondisi kami saat ini. Karakter yang bicarakan dampak pabrik ibu bukan kami tapi orang lain. Orang luar yang tidak merasakan nasib susah seperti kami pada sini, ” kata Efridus suhardi.

” Diujung sikap kami menerima kehadiran pabrik semen di kampung Luwuk ada itu sebuah harapan yaitu kesejahteraan, ” imbuhnya.

Berdasarkan data yang terhimpun, total pemilik lahan di Lengko Lolok sebabyak 103 orang. Dari jumlah tersebut, sebabyak 101 orang warga menyatakan jadi direlokasi, sedangkan 2 orang tertinggal sedang dalam proses negosiasi secara pihak perusahaan.

Tatkala di kampung Luwuk, dari mutlak 72 orang pemilik lahan, sebanyak 64 orang telah menyetujui pembangunan pabrik semen, sedangkan 8 karakter sisanya sedang dalam proses negosiasi dengan pihak perusahaan.

Berdasarkan data tersebut maka, rancangan eksploitasi galian C batu kapur di Lengko Lolok dan program pembangunan pabrik semen di wilayah Luwuk telah mencapai 89% level persetujuan masyarakat di dua provinsi tersebut.

Kepala desa Satar Punda Fransiskus Hadilais menjelaskan kalau poin-poin kesepakatan masyarakat dengan pihak perusahaan yaitu harga tanah nonsertifikat Rp 12 ribu/m2, harga lahan bersertifikat Rp 14 ribu/m2, dan tanaman seperti kayu jati, jambu mete dan lain-lain dihargai serasi kesepakatan.

” Kegiatan di lokasi pabrik semen saat ini masih melakukan patok lahan. Setelah itu antara pemilik tanah dan perusahaan akan mengikat perjanjian di notaris, ” jelas kades Satar Punda itu.

Fransiskus Hadilais menambahkan bahwa khusus untuk warga di wilayah Lingko Lolok, semua sepakat untuk tukar ke dataran rendah

” Pihak perusahaan sudah menyanggupi untuk membangun rumah warga dengan tipe 60 senilai Rp 200 juta, perabot rumah tangga senilai Rp 50 juta ditambah elektrik 1300 kwh dan air suci ditambah uang kompensasi pindah Rp 150 juta/keluarga. Pembayaran dilakukan secara bertahap. Saat ini warga telah mendapatkan uang muka Rp 10 juta, ” paparnya.