Jakarta, Akuratnews. com – Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas dalam hari selasa 10 Desember 2019 di kantornya menyoroti ketersediaan baja untuk sebagai material infrastruktur di dalam negeri.

Dari kebutuhan 9 juta ton baja, dengan terpenuhi hanya 60% dari pabrik lokal. Industri baja adalah  mother of industry  atau ibu dibanding segala industri.

Utilisasi atau pemanfaatan kapasitas terpasang untuk produksi baja nasional masih betul rendah, yakni hanya 43%.

Hal ini menginformasikan bahwa kondisi industri baja dalam jati sedang mengalami tekanan.

Untuk masalah infrastruktur, menurut Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia, Silmy Karim mengatakan dengan diperlukan saat ini adalah peningkatan utilisasi baja dalam negeri.

“Kalau ini bisa ditingkatkan maka akan baik, ” logat Silmy Karim kepada beberapa jalan.

Sementara itu menurut pendapat Dr. Siek seorang pengkritik ekonomi politik jebolan UI, mengutarakan bahwa utilisasi baja nasional tergerus akibat derasnya impor baja dibanding China.

Persoalan ini dihubungkan dengan Permendag Nomor 110 tahun 2018 tentang ketentuan impor besi baja dan baja arahan dan produk turunannya, yang sebelumnya diatur pada Permendag Nomor 22 tahun 2018.

“Ada penghapusan pertimbangan teknis sebelum memasukkan baja. Karena itu, impor baja semakin mudah dan tidak tersedia sistem kontrol izin impor, ” ujar Siek.

Sedang menurut  Siek YB. Tirtosoeseno mengantarkan bahwa kapasitas produksi baja nasional menyanggupi kebutuhan material baja buat infrastruktur seharusnya tidak ada urusan bagi industri baja lokal.

“Karena itu keran memasukkan baja harus ditutup. Selama itu, baja impor yang masuk ke pasar antara lain jenis HRC, CRC, WR Carbon, Bar Carbon, Bar Alloy, Section Carbon, Carbon Steel, Alloy Steel dan yang lain, ” ungkap Sie.

Sedangkan menurut Erick, seorang sarjana manajemen industri mengatakan bahwa era ini impor hanya memungkinkan buat baja jenis CRC.

“Baja jenis HRC dan plat sudah over supply di rekan dalam negeri, ” ujar Erick.

Erick Alexander, yang juga marketing manager PT. Topsco Baja Utama, dan berkantor serta gudang produksi pemotongan plat baja, mengakui bahwa perusahaannya juga lulus kewalahan melayani permintaan konsumen bakal kebutuhan plat baja untuk keinginan pasar lokal.

“Jadi saya harus bekerja selama hampir 20 jam sehari sehingga tak sempat pulang balik ke Jakarta, akibat banyaknya permintaan, ” ungkap Erick.

Dijelaskan sebab Erick, kendala satu-satunya adalah keterbatassan ruang gudang dan produksi yang menjadi satu lokasi menyulitkan dirinya.

Hal yang pas disampaikan oleh Mr. Kim, seorang pebisnis yang fasih berbahasa Indonesia mengatakan bahwa bisnis plat besi baja sangat menjanjikan.

Dikatakannya jika dirinya mendirikan kongsi saat ini memiliki visi istimewa untuk meningkatkan pembangunan dengan penggunaan plat besi baja di Indonesia.

“Dan misinya merupakan menguasai pasar plat baja tukul di Indonesia, khusus wilayah Jakarta dan Jawa Barat, ” menutup Kim