Jakarta, Akuratnews. com- Migrasi maujud Bisphenol A (BPA) dari kemasan makanan dan minuman plastik ternyata bisa lebih cepat prosesnya. Ada dua pemicu cepatnya proses migrasi BPA, yakni goresan & panas.

Situasi ini diungkapkan Guru Gembung Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Andi Cahyo Kumoro, S. T., M. Tia mengatakan, bila kemasan plastik yang menyimpan BPA mengalami ada pemanasan dan goresan, maka migrasi zat BPA akan lebih cepat.

“Terutama jika ada pemanasan dan goresan, migrasi BPA bakal lebih cepat dibandingkan bila tidak ada guncangan ataupun tidak ada perlakuan thermal begitu, ” ujar Prof Andi lewat sambungan telepon, Kamis (30/9).

Salah satu kemasan plastik makanan dan minuman dengan mempunyai potensi besar bertambah cepat terjadi migrasi BPA adalah galon guna ulang. Galon guna ulang secara kode daur ulang tujuh merupakan kemasan plastik berbahan dasar polycarbonat.

Kemasan  ini wajib menjadi perhatian serius. Sebab pada proses distribusinya, kerap terpapar panas matahari, belum lagi saat pencucian kerap disikat dan disemprot dengan air panas juga. Kondisi tersebut memenuhi syarat proses cepatnya migrasi BPA. Selain itu penggunaan di masyarakat betul besar.

Taat Prof Andri, cara asing zat BPA bermigrasi lantaran kemasan plastik, selain karena goresan dan panas, BPA juga bisa sedikit lebur di minyak.

“Jangan sampai ada tulisan, juga jangan menyimpan paket plastik terlalu lama, zaman plastik mulai rapuh oleh karena itu mempermudah migrasi BPA lantaran struktur polikarbonat yang ada, ” jelas Prof Andri.

“Artinya jika produk-produknya mengandung minyak ataupun mungkin kemasannya sudah lama, ditambah ada pemanasan, penggoresan lalu dikocok-kocok misalnya, tersebut akan mempercepat laju peluruhan atau migrasi dari senyawa BPA ini ke keluaran yang tersimpan di dalam kemasan tersebut, ” bebernya.

Ia pula mengingatkan bahaya yang ditumbulkan jika terpapar BPA. Dikatakannya, di anak-anak akan memusingkan sistem saraf, kemudian hendak mengubah perilakunya. Bagi pokok hamil, bisa terjadi miscarriage atau keguguran. Oleh karenanya, di berbagai negara telah tidak direkomendasikan menggunakan kemasan yang mengandung BPA.

Mengingat sejumlah bahaya dari penggunaan kemasan plastik yang mengandung BPA ini, Prof Andri setuju bila Indonesia perlu menerapkan regulasi pelarangan penggunaan kemasan plastik yang mengandung BPA.

“Saya rasa iya, walaupun ini menjadi rumit ya. Karena bagi pembuat kalau tidak menggunakan paket yang mengandung BPA, agak-agak harus mencari alternatif dengan lebih mahal. Mungkin dengan bisnis akan susah, ” ujarnya.

Walau begitu, Prof Andi berpendapat, demi generasi mendatang, sedia tidak mau pemerintah harus memiliki kebijakan melindungi tingkatan penerus, terutama anak-anak, budak dan juga balita.

“Apalagi di era pandemi seperti ini, kita tidak boleh makan di tempat, sehingga harus mendatangkan kemasan serba plastik. Itu menjadi tantangan kita semua dan juga pemerintah tentunya. Tapi, saya tetap meminta, sebaiknya harus ada regulasi soal ini, ” pungkas Prof Andri.

Prof Andri mendukung apabila BPOM sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap keselamatan konsumen mampu melakukan pembatasan.

“Saya betul mendukung BPOM karena lembaga ini bertanggung jawab terhadap keselamatan konsumen terkait penerapan bahan terutama bahan-bahan kimia serta bahan obat. Apalagi zat BPA ini sangat mempengaruhi terhadap kesehatan balita termasuk pada ibu-ibu hamil terutama pada janin. Bisa berlaku keguguran jika terpapar pada jumlah besar dan rutin. Jadi saya rasa itu sudah semestinya BPOM mengusulkan  regulasi yang lebih nyata dan terkontrol bahwa keluaran yang menggunakan kemasan sepatutnya yang bebas zat Bisohenol A, ” harap Prof Andri.