Akuratnews. com- Kepala Umum Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan tubuh dan Lingkungan Roso Daras, berkirim surat kepada Kepala Badan POM, Dr. Ir. Penny K. Lukito MCP.

Maksud transmisi surat tersebut adalah
Permohonan Terhadap Perka BPOM Untuk  Menyusun Pencantuman  Peringatan Konsumen Pada Paket Plastik  Makanan & Minuman Menyimpan BPA.

“Jadi saya berkirim surat juga sekaligus memperkenalkan diri sebagai organisasi jurnalis yang sedang fokus menyoroti Isu Kemasan Plastik yang mengandung BPA dengan berbahaya bagi kesehatan bayi, balita dan janin pada  ibu berisi, ” kata Roso seperti dalam siaran persnya.

Patuh Roso Daras,   dia serupa menyampaikan dalam surat itu rumor mengenai bahaya BPA bagi leler rentan tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010. Dunia kesehatan tubuh telah menghimbau agar kemasan dengan mengandung BPA yang bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman dengan akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin yang dikandung sebab ibu hamil sebaiknya dihindari, karena dapat mengganggu kesehatan seperti pertumbuhan hormonal sampai kanker di kemudian hari. bahkan di beberapa negeri seperti di negara Eropa, beberapa peraturan federal negara Amerika, negeri asia telah melarang penggunaan kemasan plastik yang mengandung BPA melalui regulasi yang berkaitan dengan bayi dan balita.

Roso Daras juga menyampaikan penyesalan tempat sikap ASPADIN yang menekan pihak media untuk menghapus atau menyandarkan berita yang memuat bahaya BPA. Kenapa hal itu disampaikan kepada BPOM sebab isi surat  ASPADIN kepada media-media berlindung pada    legalitas BPOM dan SNI dan Kemenperin RI dengan menyampaikan kalau Bahaya BPA adalah Hoax. Betul suatu hal yang sangat tak terpuji.

Menurut Roso, adanya kemudahan akses informasi kesehatan tubuh yang didapat dari media international dan nasional saat ini, konsumen mulai peka dan aware ada bahaya BPA dalam kemasan sasaran dan minuman yang bersentuhan tepat pada konsumsi usia rentan yaitu bayi, balita dan janin di dalam ibu hamil.

” Dan saat ini yang sedangkan di sorot adalah kemasan galon guna (isi) ulang air minum. Mengapa galon guna (isi) ulang? karena ternyata tanpa disadari paket galon guna (isi) ulang adalah kemasan plastik yang mengandung BPA yang mendominasi konsumsi air minum yang banyak dikonsumsi oleh seluruh usia setiap hari. Hal tersebut perlu kita pahami dan aksi lanjuti untuk melindungi konsumen bayi, balita dan janin Ibu hamil Indonesia, ” tuturnya.

Mengenai bahaya kandungan BPA sudah tidak perlu kita perdebatkan sedang,   karena sudah banyak pengkajian dan regulasi yang mengatur BPA ini di beberapa negara. Meskipun BPOM telah mengatur batas persyaratan Artikel Monomer Bisfenol A (BPA) pada kemasan yang diperkenankan yaitu 0, 6 bpj, maka sebaiknya untuk konsumsi bayi, balita serta janin ibu hamil adalah tidak kompromi atau Zero paparan BPA, untuk adanya batas syarat perut BPA.

Roso selalu menyampaikan bahwa ada hubungannya antara Botol Bayi  dengan sumber cairan yang dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil adalah sebagai berikut. Jika Botol atau medan minuman untuk usia rentan itu telah Bebas BPA, kemudian kemasan susu juga sudah bebas menyimpan BPA, tetapi sumber air sebab kemasan galon guna (isi) ulang masih mengandung BPA, walaupun tersedia batas syarat kandungan 0, 6 bpj, dapat dibayangkan dugaan atau kemungkinan terpaparnya BPA pada usia rentan tersebut, dan tentu selalu hal ini tidak bisa ditolerir.

Roso berharap secara surat itu atas nama  Perserikatan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan, memohon agar    BPOM MENODAI dapat mengatur pencantuman peringatan konsumen pada label kemasan plastik sasaran dan minuman yang mengandung BPA guna melindungi konsumen usia sensitif yaitu bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Selain mengirim surat kepada Awak POM juga mengirimkan tembusannya kepada Badan Standarisasi Nasional,
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.