AKURATNEWS – Untuk mengakhiri kontroversi soal Vaksin Nusantara, anggota Komisi VII DPR MENODAI, Mulyanto usul agar Kemenristek segera mengambil sikap. Kemenristek diminta memasukan riset Vaksin Nusantara tersebut ke dalam Konsorsium Riset Covid-19 supaya pengembangan vaksin ini menjelma optimal.

Secara demikian berbagai permasalahan filosofis maupun teknis ilmiah dengan muncul dapat dibahas dalam forum ilmiah yang tersedia.

“Ini bakal menjadi lebih sistematis & akseleratif. Jangan seperti saat ini, pengembangan Vaksin Nusantara berjalan “sendiri” tanpa bimbingan kelembagaan yang kokoh.

Akibatnya muncul keramaian pembicaraan publik terkait Vaksin Nusantara lebih pada tabiat pro-kontra non ilmiah, dukung-mendukung oleh elit yang merembes masuk ke wilayah sosial politik.

Apalagi ketika para influencer ikut serta maka akan menambah mendamaikan atmosfer kehidupan berbangsa serta bernegara kita. ini kan kontraproduktif, ” kata Mulyanto.

“Tanpa penyerasian kelembagaan yang kuat, komunikasi atas proses dan buatan riset Vaksin Nusantara menjelma tidak terkanalisasi dengan jalan.

Akibatnya berlaku debat publik di medsos dan mobilisasi dukung-mendukung secara politik. Ini tidak sehat dan menghabiskan energi kita, ” jelas Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.

Seperti diketahui, Kemenristek melalui Konsorsium Riset Covid-19 mengkoordinasikan 11 platform riset vaksin Merah Suci yang dijalankan oleh enam lembaga riset pemerintah & perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM.

Mulyanto berpendapat, mau menjadi sinergis dan berguna kalau konsorsium riset vaksin nasional memasukan tambahan penelitian vaksin Nusantara sebagai maklumat kedua belas riset vaksin Merah Putih.

“Perlu intervensi negara dengan serius untuk mendorong riset dan produksi vaksin pribumi. Agar kita tidak sekedar menjadi negara pengguna & pembeli, tetapi menjadi negara pembuat, yang berbasis kelebihan para inovator andal nasional. SDM dan lembaga penelitian kita mampu melakukan itu”, tandas Mulyanto.

Mulyanto melihat peran Kemenristek sangat penting dalam mengatasi polemik di atas. Menetapi Kemenristek merupakan lembaga secara tugas pokok dan kegiatan merumuskan kebijakan dan harmonisasi pelaksanaan riset dan teknologi secara nasional.

Sayangnya Pemerintah justru berencana menggabung Kemenristek ke di Kemendikbud dan juga telah mengangkat Ketua Konsorsium Riset Covid-19 sebagai pejabat pada lembaga lain.

“Ini mencerminkan lemahnya ketekunan Pemerintah dalam pengembangan vaksin domestik, ” imbu Mulyanto.

Untuk tersebut Mulyanto mendesak Pemerintah untuk segera mengkonsolidasikan riset Vaksin Nusantara ke dalam Konsorsium Riset Covid-19, yang semasa ini di bawah penyerasian Menristek/Ka. BRIN, agar rencana riset Vaksin domestik semakin konsolidatif.

“Harusnya Pemerintah memperkokoh manajemen kelembagaan Ristek nasional, sehingga semakin sinergis dan produktif. Bukan malah membuat bingung umum, ” tambah Mulyanto.