Oleh: Zaim Uchrowi                                              Penulis, Ketua Yayasan Karakter Pancasila

Kebetulan nama kami sama-sama Zaim. Nama yang tidak umum di publik. Apalagi di generasi yang lahir awal 1960-an seperti kami. Saya Zaim Uchrowi, tempat Zaim Saidi. Kami sama-sama gede di kota kecil Jawa dengan sejuk. Saya di Magetan, Jawa Timur. Dia di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Jadi karena dari daerah, kami sama-sama tertarik kuliah di IPB di Bogor. Apalagi saat itu IPB sedang menjadi model pengembangan pelajaran tinggi di Indonesia. Profesor Andi Hakim Nasution yang mengupayakannya.

Ya, Pak Andi Ketua. Salah seorang akademisi-pendidik terbesar yang pernah dilahirkan Indonesia. Beliaulah yang memperkenalkan program pendidikan sarjana 4 tahun. IPB perintisnya. Lalu diikuti seluruh universitas lain di Indonesia. Saya, dan juga Zaim Saidi, pun masuk IPB.

Kebetulan kami juga sama-sama kerap tulis menulis. Kemudian juga sama-sama tertarik pemberdayaan masyarakat. Pembeda saya: Zaim Saidi sungguh jenius. Oleh karena itu kuliahnya di Jurusan Teknologi Pangan. Jurusan yang hanya dimasuki anak-anak cerdas. Lagipula dia ganteng dan jangkung.

Selepas pelajaran, kami menempuh jalur berbeda. Tetapi masih berhubungan. Saya jadi kuli di Tempo, lalu Republika sebelum memimpin BUMN Balai Pustaka kemudian hijrah ke LKBN Antara. Namun Zaim Saidi bergabung ke Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI). LSM terhormat saat itu.

Ditempa Erna Witoelar, tokoh LSM dunia yang jadi menteri di era Pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Zaim menjadi Sekjen YLKI di usia sangat muda. Dia aktif jadi penggerak perlindungan konsumen. Baru kemudian pemerintah membentuk Direktorat Perlindungan Konsumen di Kementerian Perdagangan.

Integritas menjadi ciri orang-orang YLKI. Riset-riset produk buat konsumen harus sepenuhnya independen. Tidak boleh disponsori produsen manapun. Zaim Saidi salah satu yang utama di sana. Dia seorang ‘walk the talk’. Integritas dia sangat teruji.

Selain tersebut, di pertengahan 1980-an itu, Zaim Saidi juga menjadi kolumnis jalan. Sebagaimana Gus Dur, Zaim Saidi adalah kolumnis Tempo. Dia kolumnis termuda majalah itu. Artikelnya selalu dimuat di berbagai media populer lain, seperti Kompas dan Sinar Harapan.

Akademisi, wartawan, apalagi aktivis LSM di kala itu hampir pasti mengenalnya. Tempat bersahabat dengan almarhum AE Priyono, pemikir dan penulis masalah baik. Mereka sedaerah di Temanggung, Jawa Tengah. Di Depok, mereka juga bertetangga.

Dari golongan AE Priyono, Zaim terhubung secara para intelektual alumni Yogya, laksana Hamid Basyaib hingga Mahfudh MD yang kini Menko Polkam. Zaim juga akrab dengan para ilmuwan Jakarta generasi Ade Armando, Eep Syaefulloh, Ihsan Ali Fauzi, mematok Nurul Agustina.

Kesempatan melanjutkan studi pun diambilnya. Tempat mengambil master bidang kebijakan umum di Australia. Sepulang dari sana, ia mendirikan lembaga kajian jemaah PIRAC. Asrorun Ni’am, dulu Pemimpin Umum PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) yang kini jadi salah seorang Pimpinan MUI (Majelis Ustazah Indonesia) dari NU (Nahdlatul Ulama(

Di antara kawan-kawannya, gagasan Zaim Saidi sering tak terduga. Seperti tiba-tiba saja dia mendatangi lembaga sosial Dompet Dhuafa. Mengusulkan untuk membuat gerakan wakaf. Banyak yang paham soal wakaf. Tapi wakaf sebagai gerakan tersebut apa? Semua mengernyitkan kening masa itu.

Toh, Kampil Dhuafa menyambut gagasannya. Zaim Saidi dan Dompet Dhuafa menggulirkan kegiatan wakaf itu. Banyak yang lalu mengikutinya. Sampai pemerintah pun belakangan kemudian membentuk Badan Wakaf Nusantara. Mantan Menteri Pendidikan dan Kultur Muhammad Nuh ditunjuk memimpinnya.

Wakaf sebagai gerakan terus bergulir. Bahkan dipandang penting bakal menggerakkan ekonomi. Terutama di era ekonomi sedang tak mudah era ini. Maka Presiden pun mengeluarkan Gerakan Wakaf Nasional. Wakaf saat ini menjadi gerakan muamalah nasional.

Diakui atau tidak, Zaim Saidi telah memulai menjadikan wakaf sebagai gerakan nasional. Tapi sesudah itu dia malah ‘menghilang’. Ternyata dia hijrah ke Cape Town, Afrika Selatan beberapa lama. Pada sana dia belajar tasawuf. Beta kaget mendengar itu.

“Zaim Saidi bertasawuf? ” Contoh pikirnya selama ini cenderung Muhammadiyah. Sedangkan tasawuf lebih terasosiasi secara NU. Sayalah yang besar dibanding lingkungan tasawuf, yakni aliran Tarekat Sathariyah — tasawufnya Pangeran Diponegoro— di Pesantren Sabilil Muttaqien Takeran. Pesantren yang dibakar PKI tahun 1948.

Lalu tiba-tiba Zaim Saidi juga bertasawuf. Tasawufnya Tarekat Murabithun yang imam ataupun ‘mursyid’nya adalah Ian Dallas. Saudara muda gitaris Eric Clapton. Gaya Eric Clapton ‘Tears in Heaven’ kabarnya dipengaruhi oleh nilai spiritualitas Ian Dallas. Syeikh Abdul Qadir kini namanya.

Zaim menyebut mulanya tarekat itu berpusat di Maroko. Syeikh Abdul Qadir memindahkannya ke Afrika Selatan. “Cape Town itu sangat spiritualistis, ” katanya saat itu pada kami. “Kota itu dikelilingi 16 makam wali. Salah satunya dari Nusantara, Syekh Yusuf. ” Zaim Saidi berguru ke sana.

Murabithun serupa tarekat sufi yang lain. Penekanan tarekat ini penyucian hati. Jauhi segala kekerasan. Selebihnya ya bermasyarakat biasa. Bermuamalah mengikuti Sunnah Nabi. Sunnahnya, menurut Zaim Saidi, “seperti yang dipraktikkan oleh para-para sahabat dan generasi awal muslim. ”

Kalau Jamaah Tabligh memilih ‘khuruj’ –bersafari dakwah— sebagai sunnah yang diikutinya. Murabithun memilih bersunnah dengan penggunaan dinar dirham. Itu yang membuat Zaim Saidi lalu jadi penggerak penerapan dinar dirham.

Karena aktivitas Zaim Saidi itu, saya menanggung akibatnya. Beberapa kali aku dihubungi orang. Menanyakan soal dinar dirham. “Wah itu pasti invalid, ” kata saya. Mereka bingung antara Zaim Saidi dan Zaim Uchrowi. Maka saya hubungi Zaim Saidi. Mengapa sih sibuk mengurus dinar dirham?

“Dinar dirham itu emas dan galuh. Punya nilai intrinsik. Bentuknya sekadar koin, dan ukurannya sudah disepakati dunia selama berabad-abad, ” Zaim Saidi memaparkan panjang lebar. Oleh sebab itu dulu, lanjutnya, setiap pencetakan uang kertas selalu dijamin dengan basi emas.

Dia benar. Dulu semua begitu. Sekarang tinggal Swiss yang masih mencadangkan aurum buat setiap pencetakan uang. Segenap dunia sudah menghapus sistem itu. Walau begitu, Amerika hingga China pun tetap menyimpan emas besar-besaran. Termasuk yang dari Freeport Indonesia.

Disebut Zaim Saidi, tak ada yang dirugikan dalam bermuamalah dengan dinar dirham. “Dulu dengan satu dinar dapat utama kambing. Sekarang satu dinar bisa satu kambing juga, dan bahkan lebih, ” katanya sekitar delapan tahun silam.

Oleh karena itu ia pun mengajak teman-temannya berdinar dirham dalam bermualamah. Banyak dengan menyambutnya. Membeli dinar dirham. Bagaikan untuk tabungan dan juga mahar. Bahkan menjadi tren buat mahar pernikahan kalangan milenial. Ada selalu yang buat berdagang.

Zaim Saidi segera terasosiasi dengan dinar dirham. Membuatnya dikagumi & dijauhi. Para pengikut Wahabi menudingnya sesat karena dia bertasawuf. Kalangan Hizbut Tahrir juga merasa terganggu. Sebab Zaim Saidi mengkritisi praktik riba yang membelit Kekhalifahan Turki Usmani.

Sempat juga dia berpolemik dengan beberapa tokoh ekonomi syariah. Zaim Saidi membicarakan masih ada hal ribawi di sebagian praktik ekonomi syariah. Makin ada aktivis dinar dirham yang dikritiknya. “Dia bermain spekulasi bagi membisniskan dinar, ” kata Zaim Saidi.

Buat Zaim, dinar dirham sama sekali tidak bisnis. Dinar dirham baginya ialah sarana muamalah. Sarana yang terang dan adil bagi semua. Nilainya tetap dari masa ke kala. Tak ada yang dirugikan. Buat ekonomi keluarganya sendiri, Zaim Saidi memilih berjualan buku.

Tak hanya mempromosikan dinar dirham, Zaim Saidi juga menggagas ‘pasar muamalah’. Baginya, pasar harus terkuak bagi semua. Siapa datang bertambah awal, silakan memilih lokasi lapak. Alat tukarnya apapun yang tentu dan disepakati penjual-pembeli. Termasuk dinar dirham tentu.

Nah, pasar muamalah ini yang menarik perhatian umum. Kok ada ‘pasar’ yang pakai koin dinar dirham. Sebagian karakter mengapresiasi. Di saat sulit ekonomi karena pandemi begini, kreativitas membakar ekonomi masyarakat sangat penting. Seberapa pun aktivitas ekonomi itu.

Namun kini era jalan sosial. Apapun yang tak populer akan viral. Tak terkecuali rekan muamalah dengan dinar dirham itu. Lalu heboh. Zaim Saidi diperiksa dan ditahan polisi. Banyak yang heran. Bertransaksi dengan voucher dan Alipay saja boleh. Apa salahnya dengan dinar dirham yang berlaku dan dikeluarkan BUMN seperti PT Aneka Tambang?

Kepolisian memang sangat tanggap. Segala dengan viral selalu dicermati dan diperiksa. Wajar bila polisi pun menilik Zaim Saidi. Tapi, apakah menetapkan menahan? Mungkin polisi menganggapnya menetapkan. Buat mempermudah pemeriksaannya. Hanya Allah SWT dan polisi yang bertambah tahu soal itu.

Semoga saja pemeriksaan itu berlaku baik. Hingga polisi dapat lekas memastikan bahwa Zaim Saidi sungguh orang baik. Juga bahwa dinar dirham serta pasar muamalah yang dipromosikannya adalah baik. Buat awak, juga buat Indonesia. Saya tercatat yang meyakini itu.

Sudah seperempat abad saya menyelami karakter dan Pancasila. Lalu membentuk Yayasan Karakter Pancasila. Karakter Zaim Saidi dapat saya sebut jadi contoh baik karakter anak jati ini. Jujur, berintegritas, dan berkomitmen. Karakter yang sungguh perlu diteladani.

Maka, semoga urusan pasar muamalah dengan dinar dirham segera jernih kembali. Lalu Zaim Saidi dapat kembali aktif menebar kebaikan bagi pertiwi. Kita tahu, hukum bukan sekadar rumusan halal formal. Hukum pasti juga menyembunyikan orang baik yang berbuat elok. Insya Allah.